Tarik-menarik politik yang signifikan sedang terjadi di Washington ketika Dewan Perwakilan Rakyat AS bersiap untuk bentrok dengan Gedung Putih mengenai masa depan eksplorasi ruang angkasa. Konflik utama terletak pada proposal anggaran tahun fiskal (TA) 2027 yang diajukan Presiden Trump, yang berupaya mengurangi pendanaan NASA secara drastis—sebuah langkah yang tampaknya siap diblokir oleh anggota parlemen dari kedua partai politik.

Usulan Pemotongan: Pengurangan Drastis

Anggaran yang diusulkan Gedung Putih untuk tahun 2027 menunjukkan adanya kontraksi besar-besaran pada operasi NASA:
Total anggaran NASA: Usulan pengurangan 23%.
Pendanaan sains: Usulan potongan 47%.

Hal ini menyusul upaya serupa untuk anggaran TA 2026, yang ditolak oleh Kongres. Karena Kongres memegang “kekuasaan keuangan”, usulan Presiden tidak dapat menjadi undang-undang tanpa persetujuan legislatif, sehingga menimbulkan kebuntuan yang dapat diprediksi.

Argumen Pelestarian: Geopolitik dan Kepemimpinan

Dalam sidang baru-baru ini yang diadakan oleh Komite Sains, Antariksa, dan Teknologi DPR, para anggota parlemen berpendapat bahwa pemotongan ini secara strategis tidak masuk akal. Kekhawatiran utamanya bukan hanya pada fiskal, namun juga pada keamanan nasional dan dominasi global.

Brian Babin (Partai Republikan-Texas), ketua komite, menyoroti tren penting: pesatnya kemajuan Tiongkok dalam perlombaan luar angkasa. Tiongkok saat ini berupaya untuk mendaratkan astronot di bulan pada tahun 2030 dan mempertahankan stasiun luar angkasa permanen yang kemungkinan akan bertahan lebih lama dari Stasiun Luar Angkasa Internasional.

“Kita harus bertanya apakah usulan anggaran ini akan mempertahankan dominasi sipil dan komersial Amerika Serikat, atau apakah kita berisiko menyerahkan kepemimpinan tersebut kepada musuh kita, Tiongkok,” kata Rep. Babin memperingatkan.

Zoe Lofgren (D-California) berpendapat bahwa menghentikan ilmu pengetahuan, aeronautika, dan teknologi adalah “strategi yang kalah” di era di mana masyarakat modern semakin bergantung pada aset dan layanan berbasis ruang angkasa.

Pertahanan Pemerintah: Efisiensi vs. Pengeluaran Berlebihan

Administrator NASA Jared Isaacman membela pemotongan tersebut dengan menganggapnya sebagai koreksi yang diperlukan atas biaya yang “tidak terkendali” selama bertahun-tahun. Dia berargumentasi bahwa NASA harus menjauh dari program-program yang “terlalu besar untuk gagal namun terlalu mahal untuk berhasil.”

Isaacman menunjukkan beberapa contoh anggaran yang membengkak untuk membenarkan pendekatan yang lebih ramping:
Misi Dragonfly: Awalnya diperkirakan menelan biaya $850 juta, namun biayanya telah melonjak menjadi sekitar $3,4 miliar.
Pengembalian Sampel Mars: Perkiraan biaya melonjak dari $4 miliar menjadi sekitar $10 miliar.

Strategi pemerintah berfokus pada memprioritaskan misi inti —khususnya program Artemis untuk mengembalikan manusia ke permukaan bulan pada tahun 2028—sambil mengizinkan sektor swasta untuk mengambil alih peran seperti observasi ilmu bumi melalui armada satelit komersial.

Gesekan Hukum dan Prosedur

Sidang tersebut juga menyinggung praktik kontroversial: NASA mulai menerapkan pemotongan anggaran sebelum Kongres benar-benar mengesahkan undang-undang tersebut. Rep Lofgren menunjuk pada pembatalan proyek Electrified Powertrain Flight Demonstration (EPFD) sebagai bukti tren ini.

Meskipun Isaacman menggambarkan langkah-langkah ini sebagai “prioritas sumber daya” yang dimaksudkan untuk mempersiapkan potensi rendahnya pendanaan, Lofgren mengingatkan badan tersebut bahwa mereka terikat secara hukum untuk mengikuti anggaran yang ditetapkan oleh Kongres, bukan proposal yang diajukan oleh Gedung Putih.


Kesimpulan
Kebuntuan ini menyoroti ketidaksepakatan mendasar mengenai cara mengelola kepemimpinan ruang angkasa Amerika: Gedung Putih menganjurkan disiplin fiskal yang ketat dan fokus pada misi bulan dengan prioritas tinggi, sementara Kongres berpendapat bahwa pemotongan besar-besaran seperti itu membahayakan daya saing Amerika terhadap Tiongkok.

попередня статтяBukti Lautan Mars yang Hilang: Penemuan Landas Kontinen yang Masif
наступна статтяNASA Bersiap Meluncurkan Teleskop Luar Angkasa Nancy Grace Roman: Era Baru Pemetaan Kosmik