Menteri Pertama John Swinney telah mengindikasikan potensi melemahnya penolakan Skotlandia terhadap pengeboran minyak dan gas baru di Laut Utara, dengan alasan meningkatnya kekhawatiran atas keamanan energi mengingat meningkatnya ketegangan geopolitik. Langkah ini dilakukan ketika harga minyak melonjak menyusul konflik di Timur Tengah, yang mengancam rantai pasokan dan menaikkan biaya bagi konsumen.
Perubahan Lanskap Kebijakan Energi
Partai Nasional Skotlandia (SNP) sebelumnya mengadopsi anggapan yang menentang pengembangan baru bahan bakar fosil lepas pantai pada tahun 2023, namun Swinney berulang kali menghindari penegasan kembali pendirian tersebut. Keraguan ini mencerminkan adanya pergeseran prioritas, yang kini menyeimbangkan komitmen iklim dengan kebutuhan mendesak untuk mengamankan pasokan energi yang dapat diandalkan. Perang di Iran telah mengganggu pelayaran melalui Selat Hormuz, jalur transit energi yang penting, sehingga memaksa para pembuat kebijakan untuk menilai kembali posisi mereka.
Harga minyak telah melonjak secara dramatis, melonjak dari sekitar $70 per barel pada bulan Februari menjadi lebih dari $100 pada bulan Maret. Lonjakan ini telah memicu rekor kenaikan harga bensin dan solar, yang berdampak pada rumah tangga dan bisnis di seluruh Inggris. Meskipun perizinan untuk eksplorasi masih berada di bawah kendali pemerintah Inggris, komentar Swinney menunjukkan kesediaan untuk mempertimbangkan proyek-proyek baru jika proyek tersebut berkontribusi terhadap kemandirian energi dalam negeri.
Proyek Utama Sedang Ditinjau
Pemerintah Inggris, yang saat ini berada di bawah kepemimpinan Partai Buruh, sedang mempertimbangkan persetujuan akhir untuk dua proyek besar di Laut Utara: Rosebank dan Jackdaw.
- Jackdaw: Ladang gas yang terletak 150 mil sebelah timur Aberdeen, Jackdaw dapat beroperasi dalam beberapa bulan, sehingga memberikan peningkatan pesat pada pasokan gas Inggris.
- Rosebank: Ladang minyak terbesar di Inggris yang belum dimanfaatkan, terletak 80 mil barat laut Shetland, akan membutuhkan waktu lebih lama untuk dikembangkan namun berpotensi meningkatkan produksi minyak secara signifikan.
Kedua lokasi tersebut telah menerima izin, meskipun kemajuannya terhambat oleh tantangan hukum dari kelompok lingkungan hidup. Perusahaan energi sedang menunggu keputusan akhir dari Westminster sebelum memulai ekstraksi.
Reaksi Politik dan Pandangan Berbeda
Swinney menekankan bahwa setiap proyek baru harus lulus uji kompatibilitas iklim namun mengakui bahwa keamanan energi kini menjadi faktor yang “lebih penting” dalam pengambilan keputusan. Sikap ini menuai kritik dari Partai Hijau Skotlandia, yang menuduh SNP mengabaikan komitmen iklimnya, sementara partai oposisi menawarkan berbagai tingkat dukungan untuk melanjutkan pengeboran.
- Partai Hijau Skotlandia: Berpendapat bahwa peningkatan ketergantungan pada minyak dan gas melemahkan ketahanan energi jangka panjang.
- Buruh Skotlandia: Mendukung “pendekatan seimbang” yang menggabungkan minyak dan gas dengan energi terbarukan dan tenaga nuklir.
- Konservatif Skotlandia: Menyerukan perluasan pengeboran Laut Utara secara agresif, dengan alasan bahwa hal itu akan menciptakan lapangan kerja dan menjamin kemandirian energi.
Ekonomi Minyak Laut Utara
Analisis industri menunjukkan bahwa Laut Utara saat ini memasok sekitar 75% kebutuhan energi Inggris dan diperkirakan akan memenuhi sekitar 20% permintaan pada tahun 2050. Para ahli seperti Prof. Paul de Leeuw dari Robert Gordon University menyoroti keuntungan strategis dari memiliki cadangan minyak dan gas di dekatnya, terutama selama krisis energi global.
Jackdaw sendiri dapat menyediakan sekitar 6% dari kebutuhan gas di Inggris, sementara Rosebank dapat meningkatkan pasokan lebih lanjut, meskipun sebagian besar minyak yang diekstraksi perlu disuling di luar negeri sebelum diimpor kembali.
Implikasi Iklim dan Langkah ke Depan
Meskipun mempunyai manfaat ekonomi, pengeboran di Laut Utara membawa dampak iklim yang signifikan. Shell memperkirakan Jackdaw dapat menghasilkan hingga 35,8 juta ton karbon sepanjang masa pakainya, meskipun perusahaan menyarankan penurunan emisi melalui peningkatan efisiensi. Para pendukung lingkungan berpendapat bahwa transisi yang lebih cepat ke sumber energi terbarukan, seperti angin dan matahari, adalah solusi paling berkelanjutan.
Pada akhirnya, perubahan yang dilakukan Swinney mencerminkan realitas kompleks dalam menyeimbangkan tujuan iklim dengan kebutuhan energi yang mendesak dalam lanskap geopolitik yang semakin bergejolak. Inggris menghadapi pilihan sulit saat melakukan transisi dari bahan bakar fosil sambil memastikan keamanan energi bagi warganya.
























