Dunia sedang menghadapi krisis yang semakin besar, namun sering kali tidak terlihat: penurunan populasi serangga secara dramatis. Serangga yang dulunya merupakan bagian alam yang ada di mana-mana, kini punah dengan kecepatan yang mengkhawatirkan, tidak hanya mengancam ekosistem tetapi juga stabilitas pasokan pangan global. Ini bukanlah persoalan lingkungan hidup; ini adalah masalah masa kini yang memiliki implikasi nyata terhadap pertanian, perekonomian, dan masa depan pola makan kita.

“Tes Kaca Depan” dan Tingkat Masalahnya

Penurunan ini sangat signifikan sehingga dapat diamati dalam kehidupan sehari-hari. “Uji kaca depan” yang terkenal – penurunan nyata cipratan serangga di kaca depan mobil dibandingkan beberapa dekade lalu – merupakan indikator visual yang jelas dari tren yang lebih besar. Penelitian menegaskan bukti anekdotal ini: keanekaragaman hayati lebah global telah menurun sebesar 25% sejak tahun 1995, populasi kupu-kupu di AS telah menurun sebesar 22% dalam dua dekade terakhir, dan beberapa hutan di Jerman telah kehilangan 76% biomassa serangga terbangnya hanya dalam waktu 27 tahun.

Istilah “kiamat serangga” bukanlah hiperbola; ini mencerminkan parahnya situasi. Populasi serangga tidak hanya berkurang jumlahnya, tetapi juga keanekaragamannya. Kerugian ini tidak terjadi secara acak; hal ini didorong oleh kekuatan-kekuatan yang saling berhubungan, dan memahami faktor-faktor pendorong ini sangat penting untuk melakukan intervensi yang efektif.

Tiga Ancaman: Perubahan Iklim, Hilangnya Habitat, dan Pestisida

Penyebab utama berkurangnya populasi serangga telah dipahami dengan baik, meskipun interaksinya rumit. Perubahan iklim mengganggu siklus hidup, menyebabkan ketidaksesuaian antara serangga dan sumber makanannya. Suhu yang memanas dan peristiwa cuaca ekstrem memusnahkan populasi yang sudah kesulitan beradaptasi. Hilangnya habitat, yang disebabkan oleh urbanisasi, penggundulan hutan, dan pertanian intensif, membuat serangga mempunyai lebih sedikit tempat untuk hidup, mencari makan, dan berkembang biak. Terakhir, pestisida, khususnya neonicotinoid dan glifosat, secara langsung membahayakan kesehatan serangga dan mengganggu kemampuan mereka untuk berkembang.

Faktor-faktor ini tidak bekerja secara terpisah. Perubahan iklim memperburuk hilangnya habitat, membuat lanskap yang terfragmentasi semakin sulit dinavigasi oleh serangga. Pestisida melemahkan serangga yang sudah tertekan oleh perubahan lingkungan, sehingga mempercepat penurunan populasi mereka. Konvergensi ini menciptakan lingkaran setan yang mengancam terurainya ekosistem.

Mengapa Penurunan Jumlah Serangga Penting: Sistem Pangan Terancam

Menurunnya jumlah serangga bukan hanya sebuah tragedi ekologis; ini adalah krisis ekonomi dan ketahanan pangan yang sedang terjadi. Tiga perempat dari tanaman yang kita makan bergantung pada penyerbukan serangga, dan menyumbang sekitar $34 miliar bagi perekonomian AS saja. Kopi, coklat, blueberry, tomat, dan bahkan alfalfa – makanan pokok ternak – semuanya bergantung pada serangga untuk berkembang biak.

Meskipun lebah madu mendapat perhatian paling besar, banyak tanaman memerlukan penyerbuk khusus seperti lebah (untuk penyerbukan) atau pengusir hama coklat (untuk pohon kakao). Mengandalkan hanya pada lebah madu yang dikelola saja tidaklah cukup. Hilangnya penyerbuk liar melemahkan keseluruhan sistem, menjadikan pertanian lebih rentan terhadap gangguan.

Secercah Harapan: Upaya Konservasi dan Aksi Lokal

Meskipun prospeknya suram, ada alasan untuk bersikap optimis. Upaya konservasi yang berhasil terhadap spesies seperti kupu-kupu biru Fender menunjukkan bahwa intervensi yang ditargetkan dapat berhasil. Kuncinya terletak pada pendekatan terkoordinasi yang menggabungkan peraturan federal, inisiatif konservasi lokal, dan tindakan individu.

Memulihkan habitat sangatlah penting. Bahkan perubahan skala kecil, seperti mengubah halaman rumput menjadi taman yang ramah terhadap penyerbuk atau membuat jalur penyangga di sekitar lahan pertanian, dapat meningkatkan populasi serangga secara signifikan. Mengurangi penggunaan pestisida melalui praktik pengelolaan hama terpadu (rotasi tanaman, penyemprotan bertarget) juga penting.

Jalan ke Depan: Urgensi dan Kolaborasi

Situasi ini menuntut tindakan segera. Menunggu data yang komprehensif sebelum melakukan intervensi bukan lagi suatu pilihan. Para ilmuwan, pembuat kebijakan, dan individu harus berkolaborasi untuk memperlambat perubahan iklim, melindungi habitat, dan mengurangi penggunaan pestisida. Jumlah penyerbuk masyarakat, inisiatif ilmu pengetahuan warga, dan peralihan menuju praktik pertanian berkelanjutan merupakan langkah-langkah penting.

Kiamat serangga tidak bisa dihindari. Ini adalah krisis yang bisa kita atasi, namun hanya jika kita bertindak sekarang dengan urgensi dan komitmen kolektif untuk melestarikan makhluk kecil yang menopang sistem pangan dan ekosistem kita.

Masa depan pasokan pangan kita dan kesehatan bumi bergantung pada hal ini.