Para astronom telah mendeteksi filamen galaksi yang sangat tipis yang membentang hampir empat tahun cahaya di Supergrup Ursa Major, memberikan gambaran langka tentang struktur dasar alam semesta. Penemuan ini, yang diperoleh dengan menggunakan data dari teleskop FAST Tiongkok, menegaskan teori lama tentang jaring kosmik – perancah materi tak kasat mata yang menentukan bagaimana galaksi terbentuk dan berevolusi.

Arsitektur Alam Semesta yang Tak Terlihat

Selama beberapa dekade, para ilmuwan telah mengetahui bahwa alam semesta tidak tersebar secara merata. Sebaliknya, ia tersusun dalam jaringan luas gugus galaksi padat yang dihubungkan oleh untaian materi yang panjang, membentuk struktur yang mirip dengan jaring laba-laba. Web ini tidak terbuat dari materi yang terlihat saja; materi gelap – zat tak terlihat yang berinteraksi secara gravitasi tetapi tidak dengan cahaya – mendominasi filamen ini.

Anggap saja seperti arus bawah air. Anda tidak dapat melihat arus itu sendiri, tetapi Anda dapat mengamati pengaruhnya terhadap objek di dalamnya. Demikian pula, gravitasi materi gelap membentuk pergerakan dan distribusi galaksi. Filamen ini bertindak sebagai jalan raya kosmik, menyalurkan gas dan debu menuju galaksi, menyediakan bahan mentah untuk pembentukan bintang.

Bagaimana Penemuan Itu Dibuat

Teleskop FAST, dengan sensitivitasnya yang tak tertandingi, memungkinkan para astronom mengintip ke wilayah ruang angkasa yang sebelumnya redup. Dengan mempelajari distribusi gas hidrogen (HI) dalam Ursa Major Supergroup, tim mengidentifikasi keselarasan galaksi yang linier dan berbeda. Ini bukanlah kelompok acak; itu adalah struktur yang koheren, seutas benang yang dijalin ke dalam jalinan alam semesta.

Temuan ini penting karena filamen, terutama yang halus seperti ini, sangat sulit diamati secara langsung. Mengidentifikasi mereka memberikan bukti nyata tentang desain rumit jaringan kosmik, memvalidasi model teoretis yang memperkirakan keberadaan mereka.

Mengapa Ini Penting

Deteksi filamen ini bukan hanya sebuah pencapaian teknis; ini memperdalam pemahaman kita tentang bagaimana alam semesta tersusun dengan sendirinya. Susunan linier ini bukanlah kejadian acak. Susunan ini menunjukkan bagaimana materi gelap memandu pembentukan galaksi dengan menciptakan wilayah dengan kepadatan gravitasi tinggi. Tarikan gravitasi ini bertindak sebagai corong kosmik, menarik gas dan debu, memicu kelahiran bintang, dan memicu evolusi galaksi.

Sama seperti cetak biru yang menentukan struktur sebuah bangunan, benang-benang kosmik ini memengaruhi nasib galaksi-galaksi di dalamnya. Galaksi bukanlah entitas statis; mereka lahir, tumbuh, bergabung, dan berkembang selama miliaran tahun. Filamen bertindak sebagai tempat pembibitan, menyediakan kondisi untuk terjadinya proses ini.

Penemuan ini menggarisbawahi bahwa struktur kosmik yang samar pun memainkan peran penting dalam perkembangan alam semesta. Kita baru saja mulai memahami sepenuhnya dan peran jangka panjangnya dalam evolusi galaksi.

Intinya, pengamatan ini menegaskan bahwa alam semesta tidak sekadar mengembang menuju kehampaan; ia secara aktif membangun dirinya sendiri, satu per satu.